Berita

Epidemi HIV/AIDS di Indonesia


Robi Kurniawan | 14 Maret 2017

Epidemi HIV/AIDS di Indonesia telah bergerak dari suatu tingkat epidemi yang rendah yaitu prevalensi < 1 % ke arah tingkat epidemi terkonsentrasi dimana pada kelompok risiko tinggi tertentu telah melebihi angka 5%. Penularan HIV-AIDS di Sulawesi Selatan sudah sampai pada taraf epidemic terkonsentrasi dengan prevalensi HIV lebih 5 % secara konsisten pada kelompok Injecting Drug User (IDUs) dan pada kelompok pekerja seks komersial. Kasus yang meningkat pesat dari tahun ke tahun perlu di intervensi dengan program kegiatan yang lebih intensif dengan melibatkan seluruh sektor terkait, baik pemerintah maupun swasta.

Penaggulangan HIV-AIDS merupakan salah satu program dalam pencapaian target MDGS (target 6A), dengan tujuan umum meningkatkan pengendalian HIV-AIDS dan IMS secara berhasil guna dan berdaya guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya., dan tujuan khusus GETTING THREE ZEROES yaitu zero new infection (menurunkan jumlah kasus baru HIV), zero discrimination (Menurunkan stigma & diskriminasi), zero AIDS related deaths (Menurunkan angka kematian AIDS).

Dari hasil modeling tahun 2012 kita ketahui trend peningkatan infeksi baru HIV kedepannya terjadi pada 3 kelompok utama yaitu lelaki seks dengan lelaki (LSL), kalangan ibu rumah tangga dan lelaki beresiko tinggi (lelaki pembeli seks), sedangkan peningkatan infeksi baru pada populasi kunci seperti (WPS, Penasun, dan trans gender) tidak terjadi peningkatan yang terlalu signifikan.

Tantangan tersebut tentu menuntut kita merespon dengan cepat untuk dapat segera melakukan upaya-upaya yang dilakukan mulai dari Hulu sampai ke Hilir agar epidemi ini tidak berkembang kearah yang lebih buruk.

Upaya di Hulu yang dapat kita lakukan adalah pencegahan bagi mereka yang belum berisiko, upaya pencegahan pada populasi yang tetap melakukan perilaku berisiko. Upaya ini dengan memperhatikan jalur-jalur transmisinya seperti transmisi seksual, transmisi melalui alat suntik pada pengguna napza, dan transmisi melalui penularan dari ibu kepada anaknya.